PROGRAM INVESTASI KEHUTANAN
PROYEK-II

Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Alam Lestari Berbasis Masyarakat dan Pengembangan Kelembagaan

img



img
Madu kelulut yang diproduksi warga Desa Rantau Atas, Muara Samu, Paser. (foto: samuel gading/kaltimkece.id).

Di sebuah desa yang berdiri di tengah hutan Muara Samu, sejumlah warga sibuk membudidayakan lebah trigona. Kegiatan ini menghasilkan Rp 173 juta dalam setahun.

Ditulis Oleh: Samuel Gading
05 April 2022

Matahari sedang tinggi-tingginya ketika Aliansyah, 45 tahun, beranjak dari rumahnya di Desa Rantau Atas, Kecamatan Muara Samu, Kabupaten Paser. Ia pergi ke kebun karet yang berjarak selemparan batu dari gerbang desa. Di bawah pohonan yang rindang, lelaki berbaju hijau itu membuka penutup stup, sebuah kotak berukuran 35x35 sentimeter untuk membudidayakan lebah madu. Begitu penutup terbuka, ribuan lebah keluaran dan merayap ke tangan Aliansyah.

“Lebah-lebah ini tak menggigit,” demikian Aliansyah saat ditemui kaltimkece.id.

Kamis, 24 Maret 2022, reporter kaltimkece.id bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kendilo dan Forest Investment Program 2 (FIP) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KHLK) mengunjungi Desa Rantau Atas, yang terletak di hutan Muara Samu. Di situ, rombongan dijamu Kelompok Tani Hutan (KTH) Nyungen Jaya. Aliansyah adalah ketua kelompok tersebut. Sebagai pembuka pertemuan, rombongan disajikan madu kelulut, produk olahan KTH.

Madu tersebut berwarna cokelat gelap. Rasanya manis-manis asam. Aliansyah menjelaskan, warna gelap bertanda kadar antioksidan madu tinggi. Sedangkan rasanya berasal dari nektar atau sari bunga yang dikumpulkan lebah dari berbagai jenis tumbuhan seperti pohon karet, asoka, rambutan, dan elai.

Setiap stup, sebut Aliansyah, dapat menghasilkan 0,25 liter hingga satu liter madu per bulan. Jika cuaca sedang cerah dan musim bunga, KTH Nyungen Jaya bisa mendapatkan madu lebih banyak lagi yakni mencapai 55 liter. Setelah madu diolah, mereka mendistribusikannya dengan dua cara, melalui KPHP Kelindo atau menjual sendiri. KPHP Kendilo membeli madu kelulut seharga Rp 250 ribu per liter. Jika dijual sendiri, KTH memasarkannya dengan harga Rp 400–500 ribu per liter. Dari 2020 sampai 2021, Aliansyah dan timnya berhasil mengumpulkan 347 liter madu yang bernilai Rp 173 juta dari budi daya ini.

“Karena terkendala akses ke kota, kami lebih banyak mendistribusikan madu ke KPHP Kendilo. Hasilnya kami bagi rata. Alhamdulillah, cukup buat menambah pemasukan kami,” terang ayah tiga anak itu.

Aliansyah mengaku, sebelum berusaha madu, dulunya merambah Hutan Rantau Atas. Pada 1999, ia bermigrasi dari Kalimantan Selatan untuk menebang ulin secara ilegal. Dari kegiatan illegal logging ini, ia bisa mengantongi sekitar Rp 10 Juta dalam sebulan. Aliansyah meninggalkan kehidupan kelam tersebut karena risikonya terlalu tinggi.

“Saya pernah dikejar-kejar aparat. Untungnya, tidak pernah tertangkap. Uangnya enak tapi kerjanya susah. Mending membuka usaha saja,” bebernya.

Pada 2010, Aliansyah menanam jagung dan sawit di atas lahan miliknya seluas tiga hektare. Usaha madu baru ditekuninya saat KPHP Kendilo dan Fakultas Kehutanan (Fahutan), Universitas Mulawarman, menyambangi Desa Rantau Atas pada 2019. Melalui program FIP dan perhutanan sosial, warga desa diajak membudidayakan madu kelulut. Warga berantusias menyambutnya.

Ada enam lokasi budi daya madu di Desa Rantau. Jenis koloni lebah yang dibudidayakan di stup adalah Heterotrigona itama atau lebah trigona. Karakter lebah ini yaitu stingless atau tak menyengat. Bagi sebagian masyarakat, lebah trigona memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. KTH Nyungen Jaya melabeli produknya dengan merek dagang Madu Manti. Sedangkan produk milik KPHP Kendilo bermerk Kendilo Bee. Madu kelulut dikemas ke dua botol berukuran berbeda. Botol berukuran 150 mililiter harganya Rp 125 ribu. Yang kapasitas 500 mililiter harganya Rp 225 ribu.

Penyuluh Perhutanan KPHP Kendilo, Arief Setiawan, mengatakan, Desa Rantau Atas memiliki bentang alam yang berpotensi besar mengembangkan madu kelulut. Sejak dahulu, desa ini sudah terkenal sebagai penghasil madu hutan. Jumlah lebah trigona yang dibudidayakan KTH Nyungen Jaya disebut yang terbesar dari 10 KTH mitra KPHP Kendilo.

Lebih jauh, Arief menjelaskan, mengumpulkan madu alami lebih sulit dibandingkan membudidayakan madu kelulut. Warga disebut mesti memanjat pohon setinggi puluhan meter untuk mengumpulkan madu alami. Dengan begitu, membudidayakan madu kelulut menjadi solusi bagi mereka yang ingin berbisnis madu secara mandiri.

“Panennya cukup mudah dan manfaatnya juga terasa,” terang Arief kepada kaltimkece.id.

Kepala KPHP Kendilo, Muhammad Hijafrie, menambahkan, timnya sedang berupaya memberikan bantuan kotak ternak madu kepada para warga Desa Rantau Atas. Hal ini dilakukan untuk memperkuat perekonomian dan kemandirian masyarakat agar kuat dan berdaya mandiri.

“Keberhasilan ini dapat mendorong masyarakat untuk berdaya dan menjaga hutan mereka sendiri,” imbuhnya.

Bisa Mencegah Kanker

Pada kesempatan yang berbeda, kaltimkece.id mewawancari akademikus Fakultas Kehutanan (Fahutan), Unmul, Samarinda, Prof Irawan Wijaya Kusuma, untuk menelisik khasiat madu kelulut. Ia memberikan sejumlah penjelasan. Pertama, berdasarkan riset yang dilakukan sejumlah akademiskus dari perguruan tinggi internasional, beber Prof Irawan, produk turunan madu kelulut, baik yang botolan, propolis, maupun suplemen bee pollen, bisa mencegah tiga jenis kanker yakni kanker payudara (MCF-7), kanker Rahim (HeLa), dan Caco-2.

Fahutan dan mitra dari fakultas yang lain pun pernah mengujinya. Hasilnya, sebut Prof Irawan, ditemukan senyawa aktif asam mangiferin di produk turunan dari tujuh lebah trigona asal Kaltim. Senyawa ini memiliki efek sitotoksisitas atau menghambat sel kanker (Cytotoxicity effect of honey, bee pollen, and propolis from seven stingless bees in some cancer cell lines, Enos Tangke Arung, Rico Ramadhan, dkk, Saudi Journal of Biological Sciences, hlm, 7188).

Hasil penelitian Fahutan Unmul juga menemukan terdapat aktivitas antioksidan yang baik di madu kelulut yang dikumpulkan di areal KPHP Kendilo dan beberapa lokasi lain di Kaltim. Antioksidan adalah bahan yang dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari efek samping paparan radikal bebas yang terus-menerus. Sedangkan radikal bebas merupakan zat berbahaya yang terbentuk secara alami dari dalam tubuh. Paparan radikal bebas juga bisa didapat dari paparan asap rokok dan kendaraan serta radiasi. Sederhananya, potensi terkena kanker dapat menurun jika rajin mengonsumsi madu kelulut.

 

Khasiat lainnya dari madu, beber Prof Irawan, dapat memperkecil peluang terjadinya diabetes karena madu memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dari gula biasa. Madu juga disebut lebih mudah dicerna tubuh lantaran kadar glukosanya tinggi dan minim sukrosa.

“Rasa asam madu kelulut dimungkinkan berasal dari resin dan variasi sumber pakan dan fermentasi glukosa yang relatif tinggi dan mengindikasikan sifat antioksidan yang baik. Jadi, khasiat madu kelulut itu betul adanya,” ucap Prof Irawan ditemui di Laboratorium Kimia Hasil Hutan.

Dia menjelaskan, sejak 2019, Fahutan Unmul berupaya membantu uji kelayakan produk madu kelulut seperti kadar air, kadar cemaran, mineral dan kandungan gula sesuai standar nasional Indonesia (SNI). Model pemasarannya pun turut disusun Fahutan. Hasil pengujian Fahutan terbaru menunjukkan, produk madu tersebut sudah sesuai SNI.

Prof Irawan mengabarkan, madu kelulut diminati sejumlah negara seperti Jepang dan Malaysia. Dengan demikian, menurutnya, peluang penjualan produk olahan Daya Taka ini ke pasar internasional realistis dan sangat bisa tercapai. “Tinggal konsisten dan terus mendorong pengembangan produknya saja,” tutupnya. (*)

Editor: Surya Aditya
Sumber : https://kaltimkece.id

 


×

Informasi pengguna


Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

  • user

× Avatar
Lupa sandi?

×

Informasi pengguna


Belum ada komentar

Pengaduan GRM :