PROGRAM INVESTASI KEHUTANAN
PROYEK-II

Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Alam Lestari Berbasis Masyarakat dan Pengembangan Kelembagaan




img
Obrolan Pelepas Lelah.

Mengusung tema “Harmoni Manusia dan Alam di Lahan Basah”, seri ke-6 OPL ini mengupas implikasi teori-teori yang ada di lahan gambut "

Webinar berseri “Obrolan Pelepas Lelah” (OPL) kembali digelar Balai Litbang LHK Palembang, Selasa (1/10/2020). Mengusung tema “Harmoni Manusia dan Alam di Lahan Basah”, seri ke-6 OPL ini mengupas implikasi teori-teori yang ada di lahan gambut. Seperti seri-seri sebelumnya, OPL kali ini juga mendapat respon positif dari para sahabatnya yang berasal dari berbagai kalangan.

Transfer pemahaman mengenai ekosistem gambut kepada 228 orang peserta webinar, Bastoni, Peneliti BP2LHK Palembang mengupas tentang bagaimana ekosistem gambut yang kompleks memiliki multi fungsi, baik ekologi, ekonomi maupun sosial. Untuk memahami ekosistem gambut, Bastoni menyederhanakannya ke dalam tiga komponen utama, yaitu vegetasi, tanah dan air.

 “Pemahaman jenis vegetasi apa yang dapat hidup pada genangan air, dengan durasi berapa lama dan pada kedalaman gambut berapa adalah prinsip dasar yang harus dikuasai untuk upaya pemulihan ekosistem gambut bekas kebakaran,” ujar peneliti yang cukup berpengalaman tentang manajemen pengelolaan gambut ini.   

Bila hal tersebut dipahami, menurutnya banyak pemanfaatan di ekosistem gambut yang bisa dikembangkan. Misalnya bisa menentukan jenis-jenis tumbuhan apa yang bisa ditanam pada kondisi lahan gambut yang tetap basah (paludikultur), jenis ikan apa yang bisa hidup pada perairan rawa gambut, atau jenis ternak apa yang bisa dikembangkan.  

Setuju dengan Bastoni, peneliti lainnya, Nur Arifatul Ulya menyampaikan perlunya pemahaman akan jenis-jenis tumbuhan dan manfaatnya. Ulya mengatakan, pohon di ekosistem hutan rawa gambut merupakan sumber bahan organik bagi pembentukan gambut dan menjaga iklim mikro ekosistem gambut tetap lembab. 

 “Bisa dibilang kalau pohon menjadi roh perekonomian rumah tangga yang tinggal di sekitar hutan rawa gambut. Ketika pohon di hutan rawa gambut terus ditebang, ekosistem gambut terdegradasi. Akibatnya hutan rawa gambut tidak lagi memberikan hasil dari pohon yang berupa kayu, buah-buahan, biji, kulit kayu, daun, getah dan minyak atsiri,” tutur Ulya.

“Hasil hutan yang ada dari keberadaan pohon seperti ikan, madu, dan satwa juga mengalami degradasi bahkan hilang,” tambah peneliti bidang Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan ini.

Menurutnya kondisi ini akan mengancam kesinambungan perekonomian rumah tangga di sekitar hutan rawa gambut dan masyarakat tradisional yang bergantung pada hutan rawa gambut. Kondisi ini juga berpotensi memperburuk kerusakan hutan rawa gambut akibat aktivitas ekstraksi sumberdaya alam.

Pada kesempatan yang sama, Kepala KPH Lakitan Bukit Cogong, Edi Cahyono juga mengungkapkan tentang pentingnya pengelolaan lahan gambut dengan memperhatikan banyak aspek.

Edi Cahyono membagikan pengalamannya mengelola lahan gambut di KPH Lakitan. Beberapa tahun terakhir hampir 50% lahan gambut ini telah berubah fungsi menjadi areal konsesi perkebunan. Sedangkan sebagian lainnya dikelola oleh masyarakat.

Pengelolaan lahan gambut bersama masyarakat dilakukan dengan sistem agroforestry dengan pemilihan jenis tertentu untuk jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Jenis tanaman yang dikembangkan adalah jelutung, sereh wangi, serta jagung. Selain itu masyarakat juga dibekali dengan pengetahuan untuk budidaya lebah trigona.

“Pengembangan lebah madu diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat, dengan demikian masyarakat tidak akan terlalu fokus untuk melakukan eksploitasi terhadap lahan gambut, akan tetapi justru membantu untuk menjaga lahan gambut ini dari bahaya kebakaran,” jelas Edi.

“Lahan Gambut boleh dimanfaatkan, akan tetapi harus terjaga dari bahaya kebakaran, agar dapat diusahakan secara produktif dan berkelanjutan” adalah slogan yang diaplikasikannya dalam mengelola lahan gambut Lakitan. Walaupun masih ada beberapa kendala yang dihadapi, Edi berharap upaya yang telah dilakukannya dapat dijadikan role model bagi pengelolaan lahan gambut secara luas.

Mengenali karakteristik lahan menjadi hal yang penting dilakukan sebelum menentukan jenis tanaman yang akan ditanam di lahan gambut. Pengalaman ketika membantu petani yang tergabung dalam KUD Sari Usaha, Kabupaten Musi Banyuasin terkait penentuan jenis tanaman ini dibagikan Tubagus Angga Anugrah Syabana, narasumber lainnya.

Menurut Angga, pada saat itu masyarakat yang telah mendapatkan izin pemanfaatan perhutanan sosial ini ingin sekali menanam padi di area tersebut. Namun setelah diadakan uji sifat dan karakteristik sifat tanah, kondisi lahannya tidak memungkinkan untuk ditanami padi.

“Memilih satu jenis tanaman di lahan gambut haruslah berdasar pada identifikasi karakteristik lahan yang meliputi ketebalan gambut (bila ditemukan gambut), pH tanah dan kandungan piritnya. Bukan berdasar pada latar belakang budidaya atau keinginan. Bila dipilih jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan, tentu saja akan mengurangi kerugian,” ujar peneliti dengan kepakaran Konservasi dan Pengaruh Hutan ini.

Pelibatan kaum perempuan di manajemen pengelolaan karhutla juga dibahas pada kesempatan ini. Menurut Ari Nurlia, peneliti bidang Sosiologi Lingkungan, manajemen pengelolaan pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Indonesia masih belum banyak melibatkan peran perempuan di dalamnya.

Padahal perempuan cenderung lebih dekat dengan lingkungan. Bahkan dampak dari kebakaran hutan dan lahan pun lebih sering dirasakan oleh para perempuan, baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya bagi para perempuan pencari dan penganyam  purun, dan para perempuan pencari ikan.

“Pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pengelolaan gambut akan meningkatkan pengetahuan perempuan terhadap pentingnya menjaga ekosistem gambut, baik untuk penghidupan perekonomian maupun lingkungan,” kata Ari. “Pemahaman yang baik dari perempuan akan dapat memengaruhi pemahaman yang baik juga dalam lingkup pengelolaan ekosistem gambut,” tambahnya.

Penulis : Fitri Agustina

Editor : Risda Hutagalung

Sumber : https://www.forda-mof.org/berita/post/7620-opl-berbagi-pengalaman-riset-dan-praktik-pengelolaan-lahan-gambut-di-tingkat-tapak


×

Informasi pengguna


Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

  • user

× Avatar
Lupa sandi?

×

Informasi pengguna


Belum ada komentar